Kamis, 07 Februari 2013

Makalah Nusa Tenggara Barat



MAKALAH
NUSA TENGGARA BARAT

MAN MALANG 2 BATU
(2012-2013)


Oleh : Anita Indriasari
XII - bahasa

i. 
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan ke-hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat dan karunia Nya lah, karya ilmiah ini dapat terselesaikan dengan baik, tepat pada waktunya. Adapun tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah untuk memenuhi tugas Mata Pelajaran Antropologi, di tahun ajaran 2013, dengan judul Nusa Tenggara Barat, Fokus dan UnsurKebudayaan Suku NTB di Indonesia. Dengan membuat tugas ini kami diharapkan mampu untuk lebih mengenal tentang daerah NTB dan kebudayaan yang berkembang di NTB, yang merupakan salah satu provinsi di Indonesia dan seringkali luput dari pengamatan kita sebagai masyarakat Indonesia.

Dalam penyelesaian karya ilmiah ini, kami banyak mengalami kesulitan, terutama disebabkan oleh kurangnya ilmu pengetahuan yang menunjang. Namun, berkat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, akhirnya karya ilmiah ini dapat terselesaikan dengan cukup baik. Karena itu, sudah sepantasnya jika kami mengucapkan terima kasih kepada:
1.     Ibu Ana, yang tidak lelah dan bosan untuk memberikan arahan dan bimbingan kepada kami setiap saat.
2.     Orang Tua dan keluarga kami tercinta yang banyak memberikan motivasi dan dorongan serta bantuan, baik secara moral maupun spiritual.
3.     Narasumber terpecaya dalam penelitian ini yang sudah banyak membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung, cetak maupun elektronik, yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu. Terima kasih atas semuanya.

Kami sadar, sebagai seorang pelajar yang masih dalam proses pembelajaran, penulisan karya ilmiah ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat positif, guna penulisan karya ilmiah yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.

Harapan kami, semoga karya ilmiah yang sederhana ini, dapat memberi kesadaran tersendiri bagi generasi muda bahwa kita juga harus mengetahui adat dan kebudayaan dari seluruh provinsi yang ada di Indonesia, karena kita adalah bagian dari keluarga besar bangsa Indonesia tercinta. 





















ii.
Daftar Isi



i. Kata Pengantar…………………………………………………………………………………………………….2
ii. Daftar Isi……………………………………………………………………………………………………………3


BAB I (Pendahuluan)
1.1. Latar Belakang Masalah…………………………………………………………………………………..…...4
1.2. Rumusan Masalah……………………………………………………………………….…………….............5
1.3. Tujuan……………………………………………………………………………………………………………5
1.4. Manfaat…………………………………………………………………………………………………………..5


BAB II (Isi)
1. Agama dan Kepercayaan………………………………………………………………………………………...6
2. Ragam Kesenian di Nusa Tenggara Barat………………………………………………………………..……7
3. Keadaan Masyarakat……………………………………………………………………....…………….……….8
4. Ilmu Pengetahuan……………………………………………………………………...………………………....8
5. Bahasa………………………………………………………………………………....………………………..…8
6. Mata Pencaharian…………………………………………………………………..…………………………….9
7. Teknologi…………………………………………………………………………………………………………..9


BAB III (Penutup)
1. Kesimpulan………………………………………………………………………………………………………11
2. Saran......................................................................................................................................................11
3. Daftar Pustaka…………………………………………………………………....……………………………..12



















BAB 1 (pendahuluan)
1.1. Latar Belakang Masalah

Nusa Tenggara Barat adalah sebuah provinsi di Indonesia. Sesuai dengan namanya, provinsi ini meliputi bagian barat Kepulauan Nusa Tenggara. Dua pulau terbesar di provinsi ini adalah Lombok yang terletak di barat dan Sumbawa yang terletak di timur. Ibu kota provinsi ini adalah Kota Mataram yang berada di Pulau Lombok.
Provinsi Nusa Tenggara barat secara geografis terletak pada 115  46 119  5 Bujur Timur dan 8 10 9  5 Lintang Selatan, dengan batas wilayahnya di sebelah Barat berbatasan dengan Selat Lombok, Provinsi Bali, sebelah Timur dengan Selat Sape, Provinsi Nusa Tenggara Timur, sebelah Utara dengan Laut Jawa dan laut Flores dan sebelah Selatan dengan Samudera Indonesia.

              Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat yang beribukota di Mataram terbagi dalam 8 kabupaten dan 2 kota, yaitu Kabupaten Bima, Kabupaten Dompu, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Sumbawa Barat, Kota Bima dan Kota Mataram. Kabupaten Sumbawa merupakan wilayah dengan luas terbesar yaitu 6.643,98 Km2 (32,97%), sementara Kota Mataram merupakan wilayah dengan luas terkecil yaitu 61,30 Km2 (0,30%).
Pengertian suku bangsa dengan simpel adalah kelompok spesifik yang mempunyai kesamaan latar belakang. Selanjutnya diterangkan bahwa pengertian suku bangsa, atau kelompok etnik adalah perkumpulan orang yang mempunyai latar belakang budaya, bahasa, rutinitas, style hidup, dan ciri-ciri fisik yang sama. Masing-masing mereka mengidentifikasikan diri pada satu dengan yang lain
Sebagian besar dari penduduk pulau Lombok berasal dari suku Sasak, sementara suku Bima dan Sumbawa merupakan kelompok etnis terbesar di pulau Sumbawa. Mayoritas penduduk Nusa Tenggara Barat beragama Islam (96%).
Suku-suku di Provinsi Nusa Tenggara Barat, adalah:
            pulau Lombok: 
           Donggo
           Sasak
            pulau Sumbawa: 
           Bima
           Dompu
           Sambori
           Cek Bocek (Berco)
           Sumbawa
Namun, sungguh sangat disayangkan apabila para generasi penerus bangsa tidak mengtehaui tentang kebudayaan dari setiap suku yang ada. Kebanyakan dari mereka hanya mengetahui dan cukup mengerti tentang kebudayaan dari salah satu suku yang ada di Indonesia, itu juga karena pembahasan yang sering dibahas selalu mengambil contoh dari suku yang itu-itu saja.






1.2 Rumusan Masalah

   1. Agama dan kepercayaan apa yang di anut oleh masyarakat suku Nusa Tenggara Barat?
   2. Kesenian apa saja yang ada di suku Nusa Tenggara Barat?
   3. Bagaimana keadaan masyarakat di suku Nusa Tenggara Barat?
   4. Ilmu pengetahuan apa saja yang tercipta di suku Nusa Tenggara Barat?
   5. Bahasa apa yang di gunakan masyarakat suku Nusa Tenggara Barat?
   6. Apa mata pencaharian masyarakat suku Nusa Tenggara Barat?
   7. Teknologi apa saja yang tedapat di suku Nusa Tenggara Barat?


1.3 Tujuan
 
   1. Menjelaskan agama dan kepercayaan yang di anut dalam suku Nusa Tenggara Barat
   2. Mendeskripsikan kesenian yang terdapat di suku Nusa Tenggara Barat
   3. Mendeskripsikan keadaan masyarakat suku Nusa Tenggara Barat
   4. Menjelaskan ilmu pengetahuan yang ada di suku Nusa Tenggara Barat
   5. Menjelaskan bahasa yang digunakan di suku Nusa Tenggara Barat
   6. Menjelaskan mata pencaharian masyarakat yang ada di suku Nusa Tenggara Barat
   7. Mendeskripsikan teknologi yang ada di suku Nusa Tenggara Barat

1.4 Manfaat

  1. Menjadikan seseorang memiliki sebuah wawasan yang baru tentang ntb
  2. Bisa mendapatkan gambaran tentang ntb
  3. Memahami dan mengerti tentang daerah ntb
  4. Memberikan sebuah pandangan baru
  5. Sebagai pembelajaran












BAB II (ISI)
1.Agama dan Kepercayaan
Sebagian besar dari penduduk Lombok berasal dari suku Sasak, sementara suku Bima dan Sumbawa merupakan kelompok etnis terbesar di Pulau Sumbawa. Mayoritas penduduk Nusa Tenggara Barat beragama Islam (96%).Indonesia adalah salah satu negara kepulauan yang memiliki banyak wilayah yang terbentang di sekitarnya. Ini menyebabkan keanekaragaman suku, adat istiadat dan kebudayaan dari setiap suku di setiap wilayahnya. Hal ini sungguh sangat menakjubakan karena biarpun Indonesia memiliki banyak wilayah, yang berbeda suku bangsanya, tetapi kita semua dapat hidup rukun satu sama lainnya.
Dalam pelaksanaan Upacara Pujawali dan Perang Topat ini terdapat berbagai persiapan yang dilakukan, yang juga masuk sebagian dari upacara ini secara ritual, persiapan upcara ini sudah dimulai beberapa hari sebelumnya. Sedangkan untuk memeriahkan dan menyemarakan upacara ini beberapa hari sebelum dan sesudahnya diadakan berbagai macam hiburan dan kesenian untuk rakyat.
      http://3.bp.blogspot.com/_upUp4rRWmYk/SUiKqOyMRSI/AAAAAAAAABU/6Kpn-pxwp1Q/s400/Perang+Topat+3.jpg http://3.bp.blogspot.com/_upUp4rRWmYk/SUiKp0BZMFI/AAAAAAAAABM/oSE1VTJuATM/s400/Perang+Topat.jpg
Sebelum Perang Topat dimulai Kebon Odek dikeluarkan dari Kemaliq yang terdapat di Pura Lingsar Kecamatan Narmada yang bertujuan untuk menjemput Pesajik (sesajen) kemudian dikelilingi sebanyak 3 kali di Kemaliq lalu di upacarakan. Sesudah upacara Pujawali, dilakukan acara Perang Topat.
a.     Upacara Adat
http://idatra.files.wordpress.com/2008/09/2.jpg?w=235&h=160                         http://bp1.blogger.com/_Q3ganxyJBT0/RsFHhSK129I/AAAAAAAAAaY/BVI4sQobxnc/s320/Lombok+%2348.jpg
Menjelang tujuh belasan biasanya banyak acara2 agustusan digelar buat meriahkan B’Day kemerdekaan. Acara yang paling aku tunggu2 adalah Tarung Peresean, biasanya tarung ini pastilah helatan pemerintah karena acara ini melibatkan petarung2 dari berbagai desa. Peresean adalah pertarungan antara dua orang yang bersenjatakan alat pemukul (sebilah tongkat) dari rotan (penjalin) dengan tameng dari bahan kulit sapi/kerbau.

Peresean juga bagian dari upacara adat di pulau Lombok dan termasuk dalam seni tarian suku sasak. Seni peresean ini menunjukkan keberanian dan ketangkasan seorang petarung (pepadu), kesenian ini dilatar belakangi oleh pelampiasan rasa emosional para raja dimasa lampau ketika mendapat kemenangan dalam perang tanding melawan musuh-musuh kerajaan, disamping itu para pepadu pada peresean ini mereka menguji keberanian, ketangkasan dan ketangguhan dalam bertanding. Yang unik dalam pertarungan ini adalah pesertanya tidak dipersiapkan sebelumnya alias para petarung diambil dari penonton sendiri, artinya penonton saling tantang antar penonton sendiri dan salah satu pemain akan kalah jika kepala atau anggota badan sudah berdarah2…
2. Ragam kesenian di Nusa Tenggara Barat
a.     Slober
Kesenian slober adalah salah satu jenis musik tradisional Lombok yang tergolong cukup tua, alat-alat musik nya sangat unik dan sederhana yang terbuat dari pelepah enau yang panjang nya 1 jengkal dan lebar 3 cm.
Kesenian slober didukung juga dengan peralatan lainnya yaitu gendang, petuk, rincik, gambus, seruling. Nama kesenian slober diambil dari salah seorang warga desa Pengadangan Kecamatan Pringgasela yang bernama Amaq Asih alias Amaq Slober.
Kesenian ini salah satu kesenian yang masih eksis sampai saat ini yang biasanya dimainkan pada setiap bulan purnama.
b.     Tari Jangger
Kesenian tari jangger ini masih dipertahankan sebagai tontonan yang biasanya dipentaskan pada acara perkawinan, sunatan, ulang tahun dan Iain-lain. Kesenian ini merupakan tarian yang dilakukan oleh perempuan yang melantunkan tembang-tembang yang di iringi oleh musik gamelan Lombok.
Kesenian tari  jangger ini sekarang pementasannya tidak hanya dilakukan pada acara tertentu saja melainkan sudah masuk dalam agenda yang dilakukan di kantor-kantor atau hotel-hotel dalam rangka menghibur para tamu.
c.     Pakaian adat

https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQX2SymKX4lYJV6XW5x84Euf4e_peXfAeNEFiA0ecWjYuNuTNyB5A Secara tradisional pakaian tradisional yang dikenakan penduduk daerah Nusa Tenggara Barat dibedakan atas dua macam, yaitu yang dikenakan oleh kaum pria dan oleh kaum wanita. Pakaian adat yang dikenakan bagi kaum pria di daerah Lombok berupa tutup kepala, baju lengan panjang memakai kain sarung sebatas dengkul yang ditenun, dan celana panjang, serta di punggungnya terselip sebilah keris. Sedangkan kaum wanitanya mamakai pakaian yang terdiri atas kebaya panjang dengan kain songket. Perhiasan yang dipakai berupa hiasan bunga di kepala.


3. Keadaan Masyarakat
Suku Sasak adalah penduduk asli dan suku mayoritas di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Sebagai penduduk asli, suku Sasak telah mempunyai sistem budaya sebagaimana terekam dalam kitab Nagara Kartha Gama karangan Empu Nala dari Majapahit. Dalam kitab tersebut, suku Sasak disebut “Lomboq Mirah Sak-Sak Adhi.” Jika saat kitab tersebut dikarang suku Sasak telah mempunyai sistem budaya yang mapan.     
Dalam masyarakat Sasak, kelompok kekeraatan terkecil adalah keluarga inti (nuclear family) yang disebut kuren. Keluarga inti umumnya keluarga monogami, meskipun adat membenarkan keluarga inti poligami. Adat menetao sesudah nikah adalah virilokal, meskipun ada yang uxorilokal dan neolokal. Garis keturunan suku Sasak ditarik menuruk sistem patrilineal
4. Ilmu Pengetahuan
Suku Sasak mempunyai pengetahuan yang didapatkan turun temurun dari nenek moyang mereka tentang pembuatan lantai dari rumah mereka khususnya rumah adat mereka. Lantai rumah mereka dibuat dari tanah liat yang dicampur dengan kotoran kerbau dan jerami. Campuran tanah liat dan kotoran kerbau membuat lantai tanah mengeras, sekeras semen.
Karena perubahan pengetahuan Suku Sasak pula-lah yang menyebabkan adanya perubahan fungsi dan bentuk fisik rumah adat mereka. Hanya saja, konsep pembangunannya seperti arsitektur, tata ruang, dan polanya tetap menampilkan karakteristik tradisionalnya yang dilandasi oleh nilai-nilai fiilosofis yang ditransmisikan secara turun temurun.
                Untuk menjaga lestarinya rumah adat mereka dari gilasan arsitektur modern, para orangtua biasanya mengatakan kepada anak-anaknya yang hendak membangun rumah dengan ungkapan: “Kalau mau tetap tinggal di sini, buatlah rumah seperti model dan bahan bangunan yang sudah ada. Kalau ingin membangun rumah permanen seperti rumah-rumah di kampung-kampung lain, silahkan keluar dari kampung ini.” Demikianlah cara orang Sasak manjaga eksistensi rumah adat mereka, yaitu dengan cara melembagakan dan mentransmisikan pengetahuan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
5. Bahasa
                Selain bahasa Indonesia, bahasa sehari-hari yang digunakan Suku Sasak adalah bahasa Sasak. Bahasa Sasak ini juga dipakai oleh masyarakat Pulau Lombok, propinsi Nusa Tenggara Barat. Bahasa ini mempunyai gradasi sebagaimana Bahasa Bali dan Bahasa Jawa. Bahasa Sasak mirip dan serumpun dengan Bahasa Bali.
 a. Dialek bahasa
                Bahasa Sasak mempunyai dialek-dialek yang berbeda menurut wilayah, bahkan dialek di kawasan Lombok Timur kerap sukar dipahami oleh para penutur Sasak lainnya. Bahasa Sasak biasanya dibagi menjadi empat dialek, yaitu:
·         Dialek Sasak Pejanggi
·         Dialek Sasak Selaparang
·         Dialek Sasak Bajan
·         Dialek Sasak Tanjong
·         Dialek Sasak Pujut
·         Dialek Sasak Sembalun
·         Dialek Sasak Tebangi
·         Dialek Sasak Pengantap

6. Mata Pencaharian
Secara tradisional mata pencaharian terpenting dari sebagian besar orang Sasak adalah dalam lapangan pertanian. Dalam lapangan pertanian mereka bertanam padi sawah, padi ladang, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kedele, sorgum. Selain itu, mereka mengusahakan kebun kelapa, tembakau, kopi, tebu. Perternakan merupakan mata pencaharian sambilan. Mereka beternak sapi, kerbau dan unggas. Mata pencaharian lain adalah usaha kerajinan tangan berupa anyaman, barang-barang dari rotan, ukir-ukiran, tenunan, barang dari tanah liat, barang logam, dan lain-lain. Di daerah pantai mereka juga menjadi nelayan. Dalam rangka mata pencaharian tadi mereka menggunakan teknologi berupa pacul (tambah), bajak (tenggale), parang, alat untk meratakan tanah (rejak), kodong, ancok, dan lain-lain.
            Menurut data dari pemerintah Lombok Timur, mata pencaharian penduduk di Kabupaten Lombok Timur sebagian besar dari sektor pertanian (59,55 %), selebihnya dari sektor perdagangan, hotel , restauran 11,95 %; jasa-jasa 9,14 %; industri 8,83 % dan lain-lain 10,53 %. Keadaan ini juga diperlihatkan dari pola penggunaan lahan yang ada, yaitu permukiman 5,01 %; pertanian (sawah, lahan kering, kebun, perkebunan) 48 %; hutan 34 %; tanah kosong (tanduns, kritis) 1 %; padang (alang, rumput dan semak) 9 %; perairan 0,6 %; pertambangan 0,2 % dan lain-lain penggunaan 5 %.
7. Teknologi
a. Rumah Adat
Orang Sasak mengenal beberapa jenis bangunan adat yang dijadikan sebagai tempat tinggal dan juga tempat penyelenggaraan ritual adat dan ritual keagamaan.

http://idatra.files.wordpress.com/2008/08/lumbung.jpg?w=200&h=196
Rumah adat Sasak pada bagian atapnya berbentuk seperti gunungan, menukik ke bawah dengan jarak sekitar 1,5 sampai 2 meter dari permukaan tanah (fondasi). Atap dan bubungannya (bungus) terbuat dari alang-alang, dindingnya dari anyaman bambu (bedek), hanya mempunyai satu berukuran kecil dan tidak ada jendelanya. Ruangannya (rong) dibagi menjadi inan bale (ruang induk) meliputi bale luar (ruang tidur) dan bale dalem berupa tempat menyimpan harta benda, ruang ibu melahirkan sekaligus ruang disemayamkannya jenazah sebelum dimakamkan.
Ruangan bale dalem dilengkapi amben, dapur, dan sempare (tempat menyimpan makanan dan peralatan rumah tangga lainnya) terbuat dari bambu ukuran 2 x 2 meter persegi atau bisa empat persegi panjang. Kemudian ada sesangkok (ruang tamu) dan pintu masuk dengan sistem sorong (geser). Di antara bale luar dan bale dalem ada pintu dan tangga (tiga anak tangga) dan lantainya berupa campuran tanah dengan kotoran kerbau/kuda, getah, dan abu jerami.
Undak-undak (tangga),
digunakan sebagai penghubung
antara bale luar dan bale dalem.
Hal lain yang cukup menarik diperhatikan dari rumah adat Sasak adalah pola pembangunannya. Dalam membangun rumah, orang Sasak menyesuaikan dengan kebutuhan keluarga maupun kelompoknya. Artinya, pembangunan tidak semata-mata untuk mememenuhi kebutuhan keluarga tetapi juga kebutuhan kelompok. Karena konsep itulah, maka komplek perumahan adat Sasak tampak teratur seperti menggambarkan kehidupan harmoni penduduk setempat.
Bangunan rumah dalam komplek perumahan Sasak terdiri dari beberapa macam, diantaranya adalah: Bale Tani, Bale Jajar, Berugaq/Sekepat, Sekenam, Bale Bonter, Bale Beleq Bencingah, dan Bale Tajuk. Nama bangunan tersebut disesuaikan dengan fungsi dari masing-masing tempat.

b. Benda-Benda
  1. Gendang Beleq
                 Salah satu alat musik berupa gendang berbentuk bulat dengan ukuran yang besar. Gendang beleq ini tediri dari 2 jenis yang disebut gendang mama (yang dimainkan oleh laki-laki) dan gendang nina (yang dimainkan oleh perempuan). Konon, pada jaman dahulu, musik Gendang Beleq digunakan untuk mengantar prajurit yang hendak berangkat berperang. Sekarang alat musik ini sering digunakan untuk mengiringi rombongan pengantin atau menyambut tamu-tamu kehormatan. Gendang ini digunakan sebagai pembawa dinamika dalam kesenian Gendang Beleq.





                                                                                   

  1. Ende
            Sebuah perisai yang terbuat dari kulit lembu atau kerbau. Ende (perisai) ini dipergunakan dalam kesenian bela diri yang disebut Periseian. Periseian adalah kesenian bela diir yang sudah ada sejak jaman kerajaan-kerajaan di Lombok, awalnya dalah semacam latihan pedang dan perisai sebelum berangkat ke medan pertempuran.
  1. Peralatan untuk membangun rumah
            Peralatan suku Sasak persiapkan dalam membangun rumah mereka, diantaranya adalah:
l  Kayu-kayu penyangga,
l  Bambu
l  Bedek, anyaman dari bambu untuk dinding
l  Jerami dan alang-alang, digunakan untuk membuat atap
l  Kotoran kerbau atau kuda, sebagai bahan campuran untuk mengeraskan lantai
l  Getah pohon kayu banten dan bajur
l  Abu jerami, digunakan sebagai bahan campuran untuk mengeraskan lantai.

     4. Peralatan untuk bekerja (mata pencaharian)
l  pacul (tambah),
l  bajak (tenggale),
l  parang,
l  alat untk meratakan tanah (rejak),
l   kodong,
l  ancok,
l   dan lain-lain.
BAB III
KESIMPULAN
Dengan proses pembuatan makalah  ini, maka dapat disimpulkan bahwa bermacam-macam suku yang terdapat di Bangsa Indonesia ini. Maka kita harus memperhatikan suku-suku di Indonesia agar tidak memudarkan kebudayaan tersebut, serta tingkatkan kepekaan kita terhadap suku-suku pedalaman yang seharus nya di perhatikan.

SARAN
            Seharusnya pemerintah Nusa Tenggara Barat ikut berperan aktif dalam mewujudkan daerah yang lebih dari sebelum nya dengan meningkatkan kualitas-kualitas lain. Dan semoga suku budaya di daerah Nusa Tengggara Barat ini tidak pudar.






DAFTAR PUSTAKA
http://terune-sasak.blogspot.com/search/label/Rumah%20adat%20Suku%20Sasak
Melalatoa, M.Junus. Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia. Jakarta : Departemen Pendidikan dan            Kebudayaan.1975.
Hidayah, Zulyani. Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia. 1990
Rudini. Nusa Tenggara Barat. Jakarta : Yayasan Bhakti Wawasan Nusantara. 1992
literature.melayuonline.com
www..org/.../.../165-atraksi-budaya--.html

3 komentar: